Oleh: Amzar | November 17, 2008

Tips Haji 3

usai-zuhur-di-masjidil-haram1

Kenali Lokasi, Lebih Banyak Jalan Kaki

SELAMA berada di tanah suci, terutama di Makkah dan Madinah, jamaah akan lebih banyak beraktifitas di luar, akan selalu bergerak dengan mobilitas tinggi, dari subuh sampai tengah malam. Lebih banyak dengan berjalan kaki.

Jadi, ya harus siap dengan fisik yang selalu fit. Selain itu, tak kalah pentingnya adalah cepat beradaptasi dengan keadaan sekitaran, cepat mengenal lokasi. Ini akan menggampangkan jamaah untuk bergerak lebih leluasa, terutama untuk aktifitas yang lebih praktis dan efektif bila dilakukan sendiri-sendiri, tidak berkelompok.

Di Makkah, misalnya. Jamaah Indonesia, termasuk dari Riau sudah mengetahui daerah-daerah yang menjadi lokasi pemondokan selama di sana. Untuk jamaah haji dari Riau, antara lain akan menempati pemondokan di kawasan Syieb Amir, Jarwal, Haffair, Aziziyah, Bakhutmah, Misfalah, Jiyad Masafi, Jiyad Sud, Jumaizah, Jiyad Birbarillah, Syamiah dan sebagainya.

Umumnya lokasi-lokasi tersebut tidak terlalu jauh dari Masjidil Haram. Mungkin yang lumayan jaraknya adalah di Aziziyah, lebih dari 1,5 km atau paling jauh dua kilometer lah. Bahkan untuk menuju Masjidil Haram, jamaah harus melewati terowongan Dahmasyah. Rata-rata memang, jalan di sana datar dan rata. Pas bertemu bukit, dibikin terowongan. Sehingga jarang ditemui jalan raya yang menanjak tajam berliku ke ketinggian bukit.

Toh, kalau memang belum hafal di awal-awal, tersedia angkutan bagi jamaah yang pemondokannya jauh. Kalau pun tersesat misalnya, jangan panik, karena posko petugas Indonesia juga banyak, untuk meminta bantuan.

Pengalaman tahun lalu, tidak begitu banyak jamaah yang tersesat, tak ingat jalan mana untuk pulang ke pemondokan. Disarankan kepada jamaah untuk mengenali betul ciri-ciri lokasi yang dilewati. Sebab, lazimnya jamaah keluar pemondokan saat hari masih terang dan pulangnya sudah malam. Kalau tidak kenal ciri lokasi, bisa saja kerepotan untuk sampai ke pemondokan sendiri.

Penulis sendiri, saat berhaji tahun lalu, alhamdulillah mendapatkan lokasi pemondokan di kawasan Syieb Amir, tepatnya di Al Jenadria Hotel di distrik As-Sulaymaniyah. Kalau dihitung-hitung, jaraknya sekitar 900 meter dari Masjidil Haram. Tahun ini pun, lokasi ini masih sebagai kawasan pemondokan sebagian jamaah dari Riau. Jaraknya akan terasa sangat dekat karena saat akan berangkat ke Masjidil Haram, kita akan menelusuri jalan yang menurun, melintasi bawah jalan layang, lalu masuk ke kawasan pasar, melintasi Masjid Kucing, belok kiri lalu jalan sekitar 300 meter melintasi Pasar Seng, sudah sampai di Masjidil Haram, persis berhadapan dengan pintu Bab As-salam. Atau bisa juga melewati jalan satu lagi, melintasi masjid Jin belok kiri, sudah terlihat menara Masjidil Haram.

Begitu juga dari kawasan pemondokan lainnya, seperti Jarwal, Haffair, Misfalah, dan Bakhutmah. Mungkin hanya satu-dua hari saja kita perlu ada yang membimbing, sampai kemudian dengan mempelajari sungguh-sungguh, akan menjadi terbiasa ditelusuri. Apalagi, umumnya, dalam waktu kapan pun kita bepergian, selalu akan berpapasan dengan jamaah lainnya yang saban waktu berangkat ke Masjidil Haram, tak pernah sepi, apalagi di musim haji.

Hanya saja, seperti banyak tausiyah yang kita dengar sebelum-sebelumnya, di sana memang kita tidak perlu berbusung dada. O, gampang itu, mudah itu, ah tak akan sesat lah! Percayalah, kalau masih dibawa juga perilaku seperti itu, bisa jadi kesulitan memang akan kita jumpai. Ya, tetaplah dalam keadaan tawaduk, sabar, rendah hati dan ikhlas, insya Allah, semua akan terjalankan dengan aman, nyaman, dan malah mengasyikkan, serta nikmat. Jangan pula abaikan perilaku saling tolong-menolong, dan selalu berdoa sepenuh keyakinan, keimanan dan taqwa.

Bagi yang lokasi pemondokannya mungkin agak jauh, memang mestinya diatur penggunaan waktu. Kalau memang tidak perlu betul, tak usahlah sering-sering bolak-balik ke pemondokan. Misalnya zuhur ke Masjidil Haram, ya pukul sepuluh mestinya sudah berada di sana. Banyak jamaah yang baru pulang ke pemondokannya lagi setelah salat Isya. Atau paling tidak pulang setelah Asar, lalu ke Masjid lagi menjelang Magrib sampai isya.

Kendati tidak pulang seharian ke pemondokan, toh banyak fasilitas yang tersedia di sekitaran Masjidil Haram. Toilet misalnya, tersedia ribuan jumlahnya. Paling luas lokasinya dekat Pasar Seng, dua tingkat ke bawah tanah. Selain untuk bersuci, juga tersedia kran untuk mandi sepuasnya. Jadi kalau misalnya mau mandi pun, jamaah tinggal bawa handuk. Untuk berwuduk, juga disediakan khusus. Kendati sudah sangat banyak, toh jika memaanfaatkannya di saat jam sibuk, terutama mendekati waktu salat fardu, harus bersabar antre. Dan anda akan terbiasa mendengar pintu kamar mandi digedor-gedor dari luar oleh jamaah negara lain, yang lazimnya tak sabaran menunggu antrean.

Juga untuk urusan makan, tak perlu susah-susah. Jangan pula ditahan-tahan selera tu. Sebab, kondisi fisik yang bugar senantiasa diperlukan agar ibadah kita juga bisa berjalan lancar. Jamaah dapat mengatur waktu untuk mengisi perut di antara waktu-waktu salat. Aneka masakan tersedia baik di restoran maupun kedai-kedai makan. Tak perlu heran jika di merata tempat Anda akan disapa dalam bahasa Indonesia, untuk singgah di warung-warung yang menyediakan menu khas Indonesia.

Di Pasar Seng, ada warung bakso Si Doel, sup ayam, nasi soto, bakwan, tempe goreng dan jajanan tradisional lainnya, tinggal pilih. Rata-rata tarifnya antara lima sampai limabelas riyal, sudah komplit dan kenyang. Kalau rajin mencari, kita tidak akan kesulitan soal makanan, karena sudah banyak orang Indonesia menggelar warung di sana. Di lantai dasar Sofitel misalnya, tak jauh dari pintu Marwa, ada warung soto Mang Oedin yang selalu ramai dengan aneka pilihan makanan khas Indonesia dengan sistem swalayan.

Intinya, Anda tak perlu lah repot-repot memikirkan makanan di sana sampai harus membawa-bawa menu khusus dari tanah air segala. Yang terbiasa dengan makanan siap saji juga tersedia banyak di sana. Contohnya di kawasan plaza persis di depan gerbang utama King Abdul Aziz Gate atau gerbang nomor 1. Ada KFC, ada teh tarik plus donat, ada pizza dan sebut saja apa makanan-minuman siap saji favorit anda, semua ada. Makanan khas dari Asia Selatan juga gampang ditemukan penjualnya, di sekeliling Masjidil Haram. Ada Martabak, daging cincang, kare, dan sebagainya

Yang paling banyak dan gratis, sudah pasti adalah air zam-zam. Lokasinya tersebar di merata tempat, sejak dari semua sudut di luaran kompleks Masjidil Haram, sampai di banyak tempat di dalam Masjidil Haram, dari basement sampai di lantai puncak, ada yang dingin, ada yang segar. Cangkir kertas memang tersedia dalam jumlah yang sangat cukup, namun sebaiknya anda membawa botol khusus bekas tempat air mineral dengan kantong khusus. Membawanya gampang disampirkan seperti tas, Anda juga tidak perlu bolak-balik ke lokasi zam-zam. Ini penting, sebab, di dalam Masjidil Haram, tempat selalu diperebutkan, sehingga jika Anda tinggalkan sebentar saja untuk mengambil air zam-zam, tempat akan diisi orang lain.

Jadi begitulah, jika memang ingin seharian di Masjidil Haram pun, tak masalah karena semua seakan serba gampang, serba tersedia. Tak ingin ke luar masjid pun, nyaman beriktikaf di dalam dengan serangkaian ibadahnya. Ingin mengaji, kitab Quran tersedia dalam jumlah yang cukup di seantero masjid. Banyak jamaah yang mengkhatamkan Quran selama berada di Makkah!(amzar)

Jarak Antar Kota dalam Perjalanan
Ibadah Haji di Arab Saudi

1. Jeddah ——> Makkah 107 km
2. Jeddah …….. Madinah 425 km
3. Madinah ……. Bir Ali 12 km
4. Bir Ali …….. Makkah 486 km
5. Makkah …….. Arafah 25 km
6. Muzdalifah ….. Mina 5 km
7. Mina ……….. Makkah 7 km
8. Makkah ……… Madinah 500 km
9. Madinah …….. Madinatul Hujjaj 460 km
10. Makkah ……… Tan’im 6 km
11. Makkah ……… Ji’ronah 15 km
12. Makkah ……… Jabal Tsur 6 km
13. Makkah ……… Taif 120 km
14. Makkah ……… Madinatul Hujjaj 75 km
15. Madinah …….. Badar 138 km
16. Madinah …….. Jabal Uhud 5 km
17. Madinah …….. Masjid Quba 5 km

Oleh: Amzar | November 14, 2008

Tips Haji 2

jalan-pagi-di-madinah-latar-masjid-nabawi1

Tips Bugar Jamaah Calon Haji

Oleh Amzar

• Selagi masih di tanah air, sempatkan berjalan kaki sedikitnya 15 menit setiap pagi, misalnya usai melaksanakan salat subuh, dengan kecepatan dua kali berjalan biasa.

• Kalau bisa, sertakan olahraga ringan atau bersepeda, itu akan lebih baik.

• Membiasakan berjalan kaki akan terasa manfaatnya saat berada di tanah suci nanti, karena keseharian di sana akan lebih banyak ditempuh dengan berjalan kaki, mulai dari berangkat pulang-pergi ke Masjidil Haram atau Nabawi (terutama yang pemondokannya tidak terlalu jauh), bahkan aktifitas ibadahnya sendiri, seperti tawaf dan sa’i. Ditambah lagi dorongan kuat untuk menelusuri kawasan sekitar Masjidil Haram jika ada waktu luang, sangat terbantu jika kebugaran fisik mendukung.

• Yang menderita sakit maag, jangan mengonsumsi yang asam-asam atau cabe. Untuk mengonsumsi obat-obatan guna menurunkan gejala sakit maag, mintalah petunjuk dokter untuk mendapatkan tindakan yang benar.

• Konsumsilah secara teratur multivitamin, setidaknya sejak dua pekan sebelum berangkat, setiap hari, sampai dengan kepulangan ke tanah air. Penulis menerapkan hal ini, mengonsumsi multivitamin yang selama ini familiar dan cocok dikonsumsi, ditambah multivitamin lain yang disarankan seorang teman yang biasa menjualnya melalui jalur ala MLM. Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah karena sejak berangkat sampai kembali lagi ke rumah, 40 hari penuh aktifitas fisik tersebut, tidak ada gangguan kesehatan yang berarti. Kalau batuk atau pilek, itu sangat wajar. Sebab anekdot yang lazim dilontarkan setiap jamaah haji adalah, hanya unta saja yang tidak mengalami batuk dan pilek di tanah suci selama musim haji! Anda kelak akan terbiasa mendengar ‘’konser’’ batuk saat mengikuti salat berjamaah di Masjidil Haram nanti!

• Siapkan juga obat-obatan luar yang dapat mengurangi rasa pegal dan pelemas otot. Tentu, sekali lagi, yang sudah biasa dipakai dan familiar dengan kita. Biasanya, dua-tiga hari pertama aktifitas pulang-pergi dan beribadah di Masjidil Haram, otot-otot terutama di sekitar paha dan betis akan bereaksi dan memerlukan pelemasan. Mungkin ‘’kaget’’ saja. Setelah itu, rasa pegal dan penat-penat itu akan hilang dengan sendirinya. Kita akan kaget sendiri dengan kemampuan fisik yang kalau dalam aktifitas keseharian di tanah air, mungkin tak sanggup dijalani. Namun di sana, akan dijalani dengan nikmat. Percayalah. Itulah nikmatnya beribadah di Tanah Suci.

• Untuk kenyamanan, sebaiknya apapun obat-obatan yang dibawa, diingat dan ditunjukkan sewaktu ada pemeriksaan kesehatan dan pencatatan oleh petugas di embarkasi Batam. Ini dimaksud agar dalam perjalanan berikutnya, terutama di Arab Saudi, kita bisa terhindar dari kemungkinan ada masalah sewaktu dilakukan pengecekan barang bawaan, termasuk obat-obatan.

•Selain kesiapan fisik dan obat-obatan dari tanah air, efisiensi kegiatan fisik selama di tanah suci juga perlu dijaga ritmenya. Kalau memang anda termasuk yang diberangkatkan pada gelombang pertama, tentu terlebih dahulu akan ke Madinah. Nah, disarankan agar jaga betul kondisi fisik. Memang cuaca dikabarkan dingin saat musim haji nanti, sama seperti tahun lalu. Namun, bukan berarti tidak ada panasnya. Kalau siang hari, cahaya matahari tetap menyengat. Makanya, kalau memang tidak perlu, ngapain keluyuran, apalagi diperturutkan pula keinginan bersafari dari mal ke mal yang memang amat mengundang karena amat banyaknya di sekitar Masjid Nabawi. Ingat, tujuan utama adalah beribadah haji dan keberadaan di Madinah baru masuk dalam hitungan ziarah, sementara ibadah puncaknya nanti setelah di Makkah, Arafah dan Mina. Jangan sampai tenaga dan stamina habis sebelum waktunya!

• Begitu pula jamaah haji gelombang kedua, yang akan langsung ke Makkah melalui Bandara King Abdul Aziz, Jeddah. Kondisi fisik juga harus dipertimbangkan. Memang akan ada penjadwalan ziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti Jabal Nur dengan Gua Hira’-nya, Jabal Rahmah di Arafah, dan sebagainya, serta banyak tempat menarik lainnya di sekitar Makkah, seperti Pekuburan Ma’ala. Bahkan yang sangat kencang godaannya adalah bertaburannya pusat belanja dan jajanan di seputaran Masjidil Haram, mulai dari kelas super VVIP, sampai kaki lima, semua serba ada, serba menggoda. Kembali kita harus ingat niat utama ke sana untuk ibadah haji. Pertimbangkan betul, misalnya kalau tidak perlu betul jangan memaksakan diri mendaki ke Jabal Rahmah atau Gua Hira. Karena lazimnya jadwal ziarah ke sana sebelum memasuki di antara puncak ritual haji di Arafah dan Mina. Artinya, sedapat-dapatnya kita mengurangi resiko yang mungkin timbul sehingga ibadah yang utama dapat kita laksanakan dalam kondisi fisik yang masih prima. Masih tersedia cukup waktu setelah rangkaian ibadah utama dilalui, jika memang masih ingin berziarah, atau memuaskan rasa ingin tahu terhadap objek-objek bersejarah di sana.

Trik Memakai Ihram

Jangan sepelekan masalah ini. Tidak susah-susah amat, memang. Namun jika tidak diperhatikan secara benar bagaimana cara mengenakan kain ihram, tentu akan merepotkan dan mengganggu kekhusyukan pelaksanaan ibadah nantinya. Kain ihram biasanya mulai dipakai ketika akan memasuki Makkah untuk melaksanakan umrah, sejak dari bandara King Abdul Aziz Jeddah, atau tempat lain yang ditentukan sebagai miqat bagi yang lebih dulu ke Madinah, sampai nanti melaksanakan tawaf dan sa’i. Juga nanti mulai saat akan berangkat wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah dab bermalam di Mina, kita akan mengenakan ihram.

Ada banyak petunjuk tentang ini, termasuk juga di buku saku yang diberikan Departemen Agama. Terserah mana yang menurut Anda paling gampang, paling aman dan nyaman, dan praktis. Atau trik seperti berikut mungkin juga bisa membantu:

• Untuk kain ihram bagian bawah. Pertemukan kedua ujung kain ihram di tangan kanan, yang diposisikan seperti kita memakai kain sarung. Lantas salah satu ujungnya tadi dikepit. Sisanya direntang dengan ujung yang tengah, lantas dilipat seperti memakai sarung. Biasanya untuk lebih menguatkan, dibantu lagi dengan ikat pinggang khusus.

• Untuk kain ihram bagian atas, dilipat sedikit, lalu dibentangkan seperti kita biasa menyampirkan handuk dari arah punggung-pundak, agak lebihkan yang sebelah kanan, agar nanti dapat disampirkan di pundak dengan nyaman.

Oleh: Amzar | November 14, 2008

Tips Haji 1

masjidil-haram-saat-menjelang-isyaTips penting untuk Jamaah Calon Haji
Perlengkapan Oke, Ibadah pun Khusyuk

Oleh Amzar

PERJALANAN Haji adalah ibadah khusus yang tidak semua orang berkesempatan menunaikannya, kendati tiap muslim amat mendambakannya. Karenanya, Anda yang tahun ini berkesempatan menunaikan ibadah haji, adalah yang beruntung. Sungguh-sungguhlah menyiapkan segala sesuatunya agar semua aktifitas perjalanan ibadah ini berjalan lancar.

Mumpung masih cukup waktu, perbanyaklah bekal pengetahuan, mulai dari ilmu manasik agar dapat secara mandiri melaksanakan semua rangkaian ibadah, teori dan praktik. Banyak bahan-bahan tertulis yang diberikan pihak Departemen Agama, atau kelompok-kelompok bimbingan haji dan lembaga lain yang bergerak khusus di bidang ini. Ikutilah dengan serius karena semua bekal dan pengetahuan tersebut akan sangat berguna saat di tanah suci nanti.

Barangkali kalau untuk rangkaian pelaksanaan ibadah, cukup banyak bekal dalam bentuk teori dan praktek yang diberikan di banyak kesempatan. Namun ada bagian lain yang tak kalah pentingnya diketahui dan diindahkan, yakni kesiapan perlengkapan yang akan dibawa. Selain akan menghindarkan jamaah dari kemungkinan membawa bekal yang justru memberatkan, yang lebih penting, kemungkinan terganggunya kekhusyukan beribadah akan berkurang karena sejumlah pemicunya akan diminimalisir melalui tips-tips yang coba diuraikan nanti.

Penulis sangat terbantu ketika tahun lalu sempat mengoleksi buku : “Resep Khusyuk dalam Ibadah Haji” yang ditulis Slamet Ristanto dan Lestariningsih. Apa yang disarankannya patut diapresiasi dan memang sangat membantu, sehingga sebagian di antaranya penulis kutip dari buku itu dan didedahkan kembali di sini, ditambah pengalaman langsung penulis. Tentu dengan tidak bermaksud menggurui, barangkali ada di antaranya yang bisa diambil sebagai pedoman. Jika pun Anda sudah tahu tentang itu semua, anggap tulisan ini sebagai upaya menyegarkan kembali ingatan.

Prinsip perlengkapan ibadah haji, dirumuskannya menurut nama depan penulis buku itu sendiri: Slamet: Sedikit, Lengkap, Aman, Manfaat, Ekonomis, Teliti.

SEDIKIT
Usahakan barang yang dibawa tidak terlalu banyak, terutama barang yang tidak habis pakai dan akan dibawa lagi ke tanah air. Tas koper resmi yang diberikan khusus oleh pihak penerbangan sebaiknya diisi seadanya. Apalagi pakaian, jangan dijejal banyak-banyak. Toh, di sana amat gampang membelinya, dan harganya tidak terlalu mahal kok. Ini akan membantu sekiranya nanti ingin membeli sekadar buah tangan, dapat dimasukkan ke koper. Karena pihak penerbangan tidak mengizinkan tambahan bagasi selain yang mereka berikan, koper besar, tas kecil dan tas dokumen. Entah kalau memang ingin ngeborong, kirim pakai kargo juga bisa. Yang pasti, untuk kenyamanan, jangan melebihkan bagasi dari yang sudah ditentukan. Sadari betul kita ke sana semata untuk beribadah.

LENGKAP
Sedikit dalam kuantitas, tapi jangan pula mengabaikan yang satu ini: lengkap. Jangan nanti di sana direpotkan untuk mencari hal-hal yang sebenarnya sepele tapi penting. Di sini listing diperlukan, untuk menginventarisir apa saja yang harus dibawa, sesuai keperluan, jangan berlebihan.

AMAN
Jangan diremehkan yang satu ini, agar kita tidak mengalami kesulitan yang tak perlu. Mana yang perlu dibungkus, dilapisi, atau dikemas secara rapi, ya perlakukan dengan serius. Yang berminat bawa rendang misalnya, pastikan kemasannya aman, dibungkus dan dibalut sebab jika terkena pakaian, tentu repot dibuatnya. Jangan sertakan barang berharga dan uang di dalam koper! Saran Slamet di bukunya, agar koper aman dari pemeriksaan, untuk jamaah pria, barang-barang di dalamnya dilapisi/ditutupi pakaian ihram. Untuk jamaah wanita, barang-barang di dalamnya dilapisi/ditutupi pakaian dalam. Biasanya, petugas enggan membongkarnya.

MANFAAT
Ini yang juga menjadi pertimbangan, pastikan betul yang dibawa itu betul-betul bermanfaat di tanah suci. Di sini prinsip untuk beribadah benar-benar dicamkan, bukan untuk pamer layaknya ke pesta. Kalau benar diperlukan, tak mengapa dibawa agak banyak, terutama yang habis dipakai.

EKONOMIS
Karena barang yang dibawa terbatas mengingat ketatnya aturan, prinsip ekonomis patut dipertimbangkan. Patut diketahui barang-barang apa saja yang justru di tanah suci lebih gampang didapatkan, murah lagi.

TELITI
Seksama betul mencermati apa yang akan dibawa, kuantitas, juga kualitasnya. Umumnya busana serba putih yang dibawa, perhatikan benar mutunya. Sebab, kegiatan, mobilitas dan pergerakan kita di sana sangat aktif, sehingga sebaiknya pakaian yang dibawa diyakini betul kualitasnya, bukan hanya melihat harganya. Repot kan kalau celana atau baju yang dipakai gampang robek.

Slamet menjelaskan, barang keperluan haji pada intinya terbagi dua, untuk keperluan pribadi dan keperluan kolektif. Setiap jamaah secara pribadi sebenarnya dapat menyiapkan sendiri barang-barang yang termasuk keperluan kolektif. Namun itu repot dan tidak efisien.

Keperluan Pribadi PRIA

• Pakaian Ihram, terdiri dari dua lembar kain putih seperti handuk besar, hanya dipakai saat menjalankan ritual haji dan umrah. Di luar itu, bebas memakai pakaian biasa/muslim. Kalau tidak ada hal yang luar biasa, sebenarnya satu stel kain ihram sudah cukup. Namun kita perlu jaga-jaga agar kekusyukan ibadah tidak terganggu. Karenanya lazim jamaah membawa 1,5 atau paling banyak dua stel saja kain ihram ini.

• Kain sarung, untuk salat, cukup satu saja. Umumnya untuk ke Masjidil Haram, jamaah mengenakan celana panjang yang lebih luwes, apalagi rata-rata jarak penginapan ke masjid relatif jauh.

• Kemeja Koko/muslim. Kesantunan berpakaian di tanah suci harus terjaga, baik saat salat maupun bepergian di tempat umum. Umumnya jamaah asal Indonesia menjaga hal ini. Namun tidak harus bawa stok banyak-banyak. Tiga stel saja cukup, bisa salinan sekiranya yang kotor dicuci. Pun, di sana gampang mendapatkan baju gamis.

• Kaos Panjang dan/atau switer. Udara sejuk saat malam atau subuh, memerlukan penutup tubuh yang satu ini. Bisa untuk pelapis kemeja saat pergi salat subuh. Dua saja cukup, satunya untuk dipakai tidur.

• Celana Panjang, cukup tiga saja, termasuk yang dipakai dalam perjalanan. Ada yang praktis membawa celana panjang putih berkolor. Tampak bersih dan praktis saat buang air kecil di toilet masjid yang kendati disediakan dalam jumlah yang sangat banyak, umumnya pengguna tetap saja harus antre.

• Pakaian dalam, termasuk celana pendek. Lazimnya berwarna putih, karena luarannya juga umumnya putih. Dua saja cukup. Juga singlet, cukup dua saja. Celana dalam, secukupnya saja, dan akan terasa keperluannya saat di Mina selama 3-4 hari, sementara kesempatan mencuci dan tempat menjemur relatif terbatas. Celdal praktis sekali pakai boleh juga jadi alternatif pilihan.

• Sajadah dan Peci. Boleh dibawa satu saja. Malah di tanah suci keduanya amat banyak dijual dan murah sekali. Tinggal anda pilih yang mana.

KHUSUS WANITA

• Pakaian Ihram, juga hanya dipakai saat ritual haji dan umrah. Namun boleh dikatakan pakaian inilah yang paling penting dan utama selama di tanah suci. Harus dipelihara kebersihannya. Ihram untuk wanita sama seperti pakaian salat biasa. Dua stel sudah cukup, bisa gantian saat yang satu dicuci.

• Sarung, cukup satu, karena untuk cadangan bawahan saat salat.

• Kerudung. Dipakai selalu dalam keseharian, di manapun. Bawa empat buah, 2 pendek, dua lagi agak panjang.

• Mukena sebagai perangkat alat salat plus sajadah, cukup satu saja, untuk berjaga-jaga sekiranya baju ihram kotor. Lazim terlihat jamaah wanita salat dengan pakaian biasa, sepanjang bersih dan menutup aurat. Tapi kalau dari Indonesia banyak yang memakai mukena.

• Daster Panjang, praktis. Ya untuk baju tidur, atau untuk ke luar cari makan di dekat-dekat penginapan. Dua saja cukup
.
• Kaos kaki. Biasanya ini paling boros, karena kemana-mana sering dipakai. Bawalah sedikitnya enam pasang. Juga gampang dibeli di sana.

• Busana Muslimah. Dua cukup. Berguna ketika melakukan aktifitas ziarah atau kegiatan lain di luar ibadah. Tetaplah yang sopan, tidak ketat dan tidak mengganggu aktifitas kita.

• Pembalut Wanita. Bawa yang ukuran besar untuk berjaga-jaga sekiranya terjadi menstruasi. Bawa juga yang kecil agak 3 bungkus, karena di sana untuk ukuran kecil sulit mendapatkannya.

• Pakaian dalam, disarankan membawa 3 buah BH dan enam celana dalam, atau sesuai keperluan anda.

PERLENGKAPAN MANDI

Ini perlu dipersiapkan karena jamaah yang mendarat di bandara embarkasi King Abdul Aziz, Jeddah akan mandi di sana untuk mengambil miqat. Kelaziman kita memakai sabun, sampo, sikat gigi dan pasta gigi, sebaiknya disiapkan sejak dari tanah air, karena kendati ada di sana belum tentu cocok bagi kita. Bawa secukupnya dengan perhitungan itu masih tersedia untuk masa sekitar 40 hari. Apalagi sekarang juga tersedia dalam kemasan sachet yang praktis. Parfum pun, yang botol kecil saja. Toh, di sana amat banyak parfum pilihan, berkelas dan murah.

Sisir cukup dibawa satu saja, yang kecil. Di sana pun tidak sulit mendapatkannya. Sedangkan handuk besar, cukup satu saja. Namun jangan dibawa kebiasaan di sini, mengenakan handuk ke luar kamar mandi. Usahakan ke luar kamar mandi dalam keadaan tertutup aurat.

PERLENGKAPAN JEMUR

Sekilas sepele memang, tetapi menjadi penting di sana. Mana tahan bila semua dicuci ke laundry. Kita bisa cari tempat untuk buat jemuran sendiri, karena tiap jamaah memerlukannya, risih kalau numpang terus. Apalagi jenis dan bentuk pakaian hampir mirip.

Di antara perlengkapan jemuran antaranya tali nilon satu gulung kecil, jepitan atau lebih praktis peniti besar cukup satu lusin. Angin di sana kencang-kencang lho, dengan peniti jemuran lebih aman.

Gantungan baju atau hanger, sebenarnya tidak perlu dibawa dari tanah air. Di sana buanyyak, bahkan berserakan kalau mau mengemasinya. Rata-rata penjual pakaian di sana membuang hanger ketika busana diserahkan kepada pembeli. Mau beli pun tak sulit mencarinya.

PERLENGKAPAN TIDUR

Jangan diabaikan, karena aktifitas tidur perlu dijaga agar tidak mengusik vitalitas fisik dan psikis dalam pelaksanaan rangkaian ibadah. Baju tidur, cukup dengan kaos panjang, plus training berbahan kaos lembut. Satu saja cukup. Selimut pun, sebenarnya tidak terlalu dipakai di sana, karena tidur di penginapan suhunya tidak terlalu ekstrim. Sarung bantal, kalau memang ingin lebih nyaman, silakan dibawa. Kaos kaki juga perlu dibawa, kadang membantu untuk mengusir rasa dingin, juga mencegah agar tidak masuk angin.

PERLENGKAPAN MAKAN
Ini pun tidak mutlak-mutlak amat dibawa dari tanah air. Kalau pun dibawa, yang dari plastik atau melamin saja.

MAKANAN dan MINUMAN
Kecuali di Arafah dan Mina serta Madinah yang disediakan, jamaah mengurus makannya sendiri selama di Makkah. Sebenarnya dengan living cost yang diterima, sudah cukup untuk konsumsi. Apalagi banyak warung makan Indonesia di seantero Makkah, sampai yang menjajakannya di kaki lima, terutama saat di Madinah, usai salat subuh. Hanya mungkin selera tidak cepat menyesuaikan. Namun semestinya soal konsumsi jangan kelewat memilih, karena bagaimana pun kondisi fisik yang fit sangat diperlukan untuk kelancaran dan kekhusyukan pelaksanaan rangkaian ibadah di sana. Restoran-restoran siap saji pun tersedia banyak di sana, termasuk yang khas Indonesia, seperti bakso dan soto. Asal rajin menelusuri, bertanya dan sabar mencari, ketemu tu!

Ada memang yang membawa jenis makanan tertentu dari tanah air. Tapi, dari pengalaman terdahulu, soal makanan tidak menjadi hal yang rumit selama di Makkah. Tinggal mencari yang sesuai selera, mau yang di kelas hotel mewah atau kaki lima, terserah Anda.

KELENGKAPAN LAIN

• Jaket dan atau sweater. Sahabat bagi yang tak tahan dingin AC di pesawat, juga di Makkah dan Madinah yang seperti tahun lalu, untuk musim haji tahun ini juga diperkirakan masih akan dingin suhu udaranya.

• Kaca mata rayban. Berguna untuk melindungi mata dari terik matahari atau debu pasir. Di sana juga banyak yang jual. Siang hari akan sangat membantu, apalagi bila tidak mendapat tempat di dalam Masjidil Haram, kaca mata ini akan membantu kita dari silaunya pantulan cahaya matahari dari lantai pualam pelataran Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

• Masker, amat membantu di sana, karena kita sangat banyak melakukan aktifitas di luar, siang maupun malam, di tengah perubahan udara yang ekstrim pagi, siang dan malam. Apalagi kita berbaur dengan jutaan manusia dari beragam kawasan dan berbagai keadaan. Masker dapat membantu agar udara yang dihirup sudah tersaring debu dan kemungkinan bibit penyakitnya. Bisa bawa lima atau enam masker, karena nanti dari pengelola haji juga ada pembagian masker. Di sana juga banyak yang jual kok. Yang penting diperhatikan, konsultasilah kepada yang tahu, di saat kapan saja dalam rangkaian ibadah, perlengkapan seperti masker ini tidak boleh dipakai.

• Sepatu ket atau sandal bertali. Ini bermanfaat sekali karena selama menunaikan haji, entah berapa kilometer kita harus berjalan. Apalagi saat pergi melontar jumrah, kedua jenis alas kaki ini besar perannya dibanding hanya sekadar sandal jepit. Tentunya untuk pertimbangan keselamatan juga, karena kalau sandal jepit bisa saja putus atau terinjak jamaah lain, sementara jarak tempuh antara kemah dengan lokasi jamarat cukup jauh. Kekhusyukan jadi terganggu jika alas kaki juga bermasalah. Keduanya juga dapat dipakai saat berkesempatan melakukan ziarah dan jalan-jalan ke tempat yang jauh.

• Sandal jepit, praktis dipakai saat akan bepergian ke masjid. Dapat dibungkus kantong plastik agar dapat dibawa ke dalam masjjid, atau untuk jalan-jalan di sekitar pemondokan. Pertimbangan dibawa ke dalam masjid, karena sangat lazim setiap jamaah tidak atau jarang keluar dari pintu yang sama seperti saat ia masuk ke Masjidil Haram.

•Tas pinggang. Bagi yang berangkat suami-istri, cukup prianya saja yang pakai. Selain untuk menyimpan uang atau dokumen penting lainnya, juga dapat menjadi pegangan istri agar tidak terpisah di tengah berjubelnya umat.

• Topi atau payung, tak penting-penting amat karena selain gampang mendapatkannya di sana, kegunaannya pun paling ketika berziarah ke tempat-tempat bersejarah di sana.

• Tas ke masjid. Yang praktis saja, untuk dapat memuat buku-buku agama, tafsir, kumpulan doa dan sebagainya. Atau untuk memuat makanan kecil. Biasanya juga di embarkasi ada yang jual kantong khusus untuk membawa botol minuman. Ini berguna untuk diisi air zam-zam saat berada di masjid. Sebab, kendati lokasi pengambilan air zam-zam sangat banyak di Masjidil Haram dan Nabawi, jadi repot jika harus bolak-balik mengambilnya, sementara tempat yang tadi ditinggalkan, dengan cepat akan diisi jamaah lain.

• Kantong kerikil. Ini berguna untuk kegiatan melontar jumrah. Biasanya ada yang disediakan oleh pihak bank penerima setoran haji. Tapi bisa juga diusahakan sendiri. Bahkan kemarin, banyak juga jamaah yang membawa botol plastik air mineral untuk tempat sedikitnya 70 butir kerikil yang rata-rata setiap butirnya berukuran sebesar kelereng itu.

• Tas kresek. Dibawa secukupnya agar tak repot saat akan membungkus sandal memasuki masjid. Di kedua masjid di Makkah dan Madinah, disediakan banyak tempat meletakkan sandal. Tinggal bagaimana kita melakukan tindakan yang dianggap praktis untuk meletakkannya, dan yang penting penempatannya tidak mengganggu aktifitas ibadah.

• Karet gelang. Jangan anggap remeh benda satu ini. Terasa membantu saat kita melaksanakan tawaf mengelilingi Kakbah, atau saat melaksanakan Sa’i. Tujuh buah karet di pergelangan tangan akan membantu mengingatkan kita menghitung berapa putaran yang sudah dilalui, dengan setiap putaran selesai, satu karet gelang berpindah posisi ke pergelangan tangan satu lagi. Sangat mungkin kita akan salah menghitung di tengah berjubelnya jamaah melakukan ritual yang sama. Boleh saja bawa lebih, mana tahu ada rekan yang memerlukannya.

• Tisu kering/basah. Perlu juga untuk melap muka dari debu, atau saat flu menyerang –sangat lazim menimpa jamaah haji!

• Obat-obatan pribadi, bawa secukupnya. Adakalanya kita familiar dengan jenis obat tertentu, misalnya untuk flu, pilek, demam, sakit kepala, pegal-pegal dan sebagainya. Atau yang kerap terjadi seperti bibir dan telapak kaki pecah-pecah. Setidaknya obat untuk itu semua ada disediakan. Lebih dari itu, tentunya obat-obat yang dibawa sesuai anjuran dokter.

• Kamera Kecil. Sangat sayang jika banyak momen penting tidak diabadikan. Apalagi sekarang banyak kamera digital ukuran mini, lebih gampang dibawa. Memang di dalam masjid tidak dibenarkan berfoto-ria. Namun satu-dua banyak juga yang menggunakannya saat tidak melakukan aktifitas ibadah. Di luar itu, banyak momen dan tempat bersejarah yang akan menjadi memori indah jika sempat diabadikan dengan foto.

• Buku-buku Islam. Ini terasa penting selama di tanah suci. Waktu yang memang disediakan untuk sepenuhnya beribadah, akan membuka pikiran untuk menerima dan mempelajari ilmu-ilmu agama melalui bacaan, terutama dari terjemahan Alquran dan tafsir hadis.

• Gunting Kecil/lipat. Untuk jaga-jaga, misalnya untuk mengunting tali. Biasanya aman bila dimasukkan ke dalam koper besar. Ada saja gunanya nanti, bahkan juga saat selesai Sa’i, bisa untuk bertahalul.

• Gunting Kuku. Kecil tapi besar manfaatnya. Berada di tanah suci dalam waktu yang lama, tentu kebersihan kuku harus terjaga.

• Spidol permanen. Dibilang tak penting, saat-saat tertentu benda ini diperlukan. Saya dulu membawanya, dan ternyata berguna tidak saja untuk diri sendiri, tetapi juga jamaah lain satu rombongan. Apalagi barang-barang jamaah, mulai dari yang besar, koper dan tas, sampai pakaian dalam nyaris sama bentuknya. Goresan spidol permanen bisa membantu mengingatkan itu punya siapa.

• Uang Riyal. Kalau dapat, saat di sana kita juga mengantongi uang ini dalam pecahan yang kecil-kecil. Pecahan satu Riyal sangat berarti karena harga terendah barang-barang yang dijual dipatok dengan harga satu Riyal. Mau bawa Rupiah atau Dolar AS juga oke, karena fasilitas penukaran uang di sana gampang ditemui.

• Telepon genggam/ponsel. Slamet menyebutnya ‘penting-penting mengganggu.’ Namun bagi saya sebagai wartawan, justru perangkat satu ini sangat membantu mengirim berita ke kantor, setiap hari. Bisa dengan tetap menggunakan operator di tanah air dengan membuka akses internasionalnya. Atau dengan membeli kartu tempatan, dengan pulsa Arab Saudi. Semuanya gampang, namun etika mestinya tetap dijaga. Musim haji kemarin, ini betul yang diabaikan jamaah, terutama dari luar Indonesia. Mereka tidak memosisikan ponselnya dalam keadaan tidak berisik, sehingga deringan beragam ringtone bersahut-sahutan di tengah keheningan ibadah. Tinggal kita mau pilih yang mana, mau yang roaming internasional atau membeli kartu setempat. Yang penting, jangan diperturutkan kebiasaan ber-hape ria. Bisa terganggu kekhusyukan ibadah dan menjerit saat melihat bill tagihan!

ISI TAS JINJING

Hand Bag atau tas jinjing, paling diperlukan saat kita berada di asrama haji dan di perkemahan Mina. Juga ada yang membawanya saat wukuf di Arafah.

Bagi jamaah gelombang pertama yang langsung ke Madinah, sebaiknya kain Ihram tidak perlu ada di dalam hand bag, karena jamaah akan melakukan arba’in (salat berjamaah 40 waktu di Masjid Nabawi) terlebih dahulu sebelum melaksanakan umrah/haji ke Makkah. Pakaian ihram nanti disiapkan di Madinah menjelang berangkat ke Makkah. Karenanya isi hand bag cukup:

1. Alquran dan terjemahan
2. Buku doa dan manasik haji untuk dibaca dan dipelajari sepanjang perjalanan.
3. Pakaian dan perlengkapan salat untuk di asrama haji (dalam waktu sehari semalam saja).
4. Kaos panjang untuk tidur malam di asrama haji.
5. Peralatan mandi untuk di asrama haji dan penginapan di Madinah.
6. Sandal jepit dan obat-obatan.

Sedangkan untuk jamaah gelombang kedua, sebaiknya saat akan berangkat atau di asrama haji, kain ihram sudah harus disiapkan di dalam hand bag. Karena biasanya mengambil miqat umrah di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Karenanya barang-barang yang sudah harus ada di hand bag antara lain:

1. Seperangkat kain ihram, yang akan dipakai mulai dari Bandara King Abdul Aziz
2. Alquran dan terjemahannya, dibawa setiap saat.
3. Doa/manasik haji untuk dibaca sepanjang perjalanan.
4. Pakaian dan perlengkapan salat, baik di asrama haji (dalam waktu sehari semalam saja).
5. Kaos panjang untuk tidur malam di asrama haji.
6. Peralatan mandi, termasuk handuk untuk dipakai di asrama haji dan di Bandara King Abdul Aziz sebelum berganti pakaian ihram.
7. Sandal jepit dan obat-obatan.

Kelengkapan-kelengkapan lain yang diperlukan secara kolektif, sebaiknya dibicarakan dengan rekan satu rombongan, tergantung kesepakatan. Sebagian besar bisa dibeli di tanah suci, seperti rice cooker, panci, kompor listrik kecil, pemanas air listrik, ember, setrika kecil, gunting besar, pisau, senter besar, lakban, tali rafia besar, palu dan lainnya. Semua keperluan kolektif ini tergantung kesepakatan anggota.***

Oleh: Amzar | November 13, 2008

Hello world!

Selamat datang di ajang kreasi, diskusi dan silaturahmi ini

Kategori